TIM
PENYUSUN :
Pengarah
Siswoyo,
S.Pd. ( Kepala Desa Rejosari )
Narasumber
Pemerintah
Desa Rejosari
Tokoh
dan Sesepuh Desa Rejosari
Warga
Paguyuban “ Mekar Sari Desa Rejosari
Penghimpun Materi / Konsep Naskah
Moch.
Subechi
Pengetikan Naskah
Sugito
Gambar / Foto
Darmanto
Rasjo
Bismillah
hirohman nirohim
Assalamua’alaikum
Wr. Wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik dan hidayahNya, sehingga saya tergerak
hatinya untuk menulis, mengutarakan dan mengusulkan kepada pemerintah desa
Rejosari akan hal mengenai pelestarian cagar budaya yang ada di desa Rejosari
tercinta ini.
Penulis tidak ada maksud ataupun
niat lain dalam membuat tulisan ini, hanya semata – mata ingin nguri – uri melestarikan
situs warisan leluhur desa Rejosari dan demi terjaganya peninggalan situs –
situs tersebut sebagai cagar budaya.
Penulis sadar apa yang saya tulis
ini masih sangat minim sumbernya dari para sesepuh desa dan orang – orang tua
yang dimintai sebagai narasumber sangat kurang, bahkan tidak ada sama sekali.
Harapan penulis hanyalah bila warga
desa Rejosari atau siapapun pernah mendengar tentang situs – situs tersebut,
mohon untuk memberi informasi kepada penulis, sehingga dapat melengkapi tulisan
ini dan lebih mendekati kebenarannya.
Terima kasih kami haturkan kepada
semua pihak yang telah memberikan bantuan dan peran serta sehingga tulisan ini dapat
terwujud. Semua itu demi desa Rejosari yang tercinta dan kami banggakan
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Rejosari, Desember 2013
Penulis
MOCH.
SUBECHI
SAMBUTAN
KEPALA DESA REJOSARI KECAMATAN BOJONG
TENTANG
PELESTARIAN CAGAR BUDAYA
Assalamu’alaikum Wr.
Wb.
Telah kita
ketahui bersama bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang mau menghargai sejarah JASMERAH, Jangan
sekali – kali meninggalkan sejarah.
Cagar
budaya merupakan petilasan dan sekaligus unsur atau bagian sejarah, oleh karena
itu kelestariannya perlu dijaga.
Selaku
Kepala Desa, kami merasa ikut bertanggungjawab adanya cagar budaya yang
terdapat di wilayah desa Rejosari.
Kami
sangat setuju dan mendukung adanya pembuatan buku yang memuat tentang
peninggalan sejarah yang berupa cagar budaya. Dikandung maksud untuk menambah
wawasan kita dan yang lebih penting lagi adalah untuk memberi warisan kepada
generasi penerus bangsa yang berbudi luhur.
Semoga
tujuan atau niat baik ini mendapat ridho dari Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa.
Amin ya Robbal alamin
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb.
Rejosari,
Maret 2014
Kepala Desa Rejosari
SISWOYO,
S.Pd
SAMBUTAN
BPD DESA REJOSARI
TENTANG
PELESTARIAN CAGAR BUDAYA
Assalamua’alaikum Wr.
Wb.
Peninggalan
sejarah merupakan bukti otentik yang bisa kita jadikan dasar mengetahui sejarah
perjalanan bangsa ( desa ) kita. Dari peninggalan sejarah itu tersimpan beragam
nilai yang penting untuk diketahui oleh generasi muda.
Nilai
itu menyangkut sejarah pembuatan atau penggunaan seni arsitektur yang digunakan
dan mengapa peninggalan itu dibuat, bagi generasi penerus bisa dijadikan cermin
bagaimana tahap kehidupan bangsa atau desa pada masa itu.
BPD
Desa Rejosari Kecamatan Bojong Kabupaten Pekalongan, dengan adanya buku yang
memuat tentang peninggalan sejarah yang ada di desa Rejosari sebagai warisan
luhur semoga dapat menambah wawasan keilmuan dan meningkatkan keimanan dan
ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa ( Allah ) bagi para pembacanya.
Akhirnya
mari dengan membaca “ Bismillahirohmannirrohim “ dengan niat yang baik dan tulus ikhlas ini tidak
akan mengaburkan bahkan menyimpang dari ajaran agama kita dan semoga selalu
mendapat rahmat dan ridho dari Allah SWT Amin…
Wassalamua’alaikum
Wr. Wb.
Ketua BPD Desa Rejosari
Drs.
H. WARTOYO
PENDAHULUAN
Seiring dengan
perkembangan zaman yang semakin maju dan teknologi yang semakin canggih serta
derasnya arus globalisasi maka mau tak mau kita harus terima keberadaannya
disekitar kita. Hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan
bermasyarakat kita dalam hal apapun juga termasuk hal nguri – uri budaya
leluhur, asal muasal dan melestarikan sesuatu yang menurut kalangan generasi
sekarang sudah tidak rasional serta ketinggalan zaman.
Melihat
adanya beberapa peninggalan di desa Rejosari yang berbentuk makam dan situs
lainnya yang usianya sudah ratusan tahun, seyogyanya mari kita telusuri
sejarahnya dan kita pelihara sehingga dapat dijadikan cagar budaya. Kita jangan
berpikiran sempit andai cagar budaya tersebut kita rawat keberadaan dan
keutuhanya demi kelestarian aset budaya dan napak tilas dari para pendahulu
kita, sebagai bukti dan saksi sejarah bahwa di desa Rejosari sudah ada
peradaban kehidupan yang strata sosialnya sangat kharimastik di wilayah Kecamatan
Bojong.
Dan
yang lebih penting lagi adalah situs makam tersebut adalah tokoh – tokoh yang
memang seharusnya kita hormati. Beruntung situs – situs tersebut belum
terlanjur hilang sehingga masih dapat kita jaga kelestariannya. Pelestarian
cagar budaya bukan tempat pemujaan dan sebagainya, namun sebagai saksi bisu
atau sumber kajian dan referensi bagi generasi mendatang, dan sebagai bentuk
pendidikan atau edukasi bagi anak cucu kita nanti, yang diharapkan selalu
menghormati sesepuhnya sehingga menjadi manusia atau anak yang berbudi luhur
dan tidak tenggelam oleh gempuran derasnya pengaruh globalisasi.
SUMUR
WALI
1. Lokasi :
Belakang Masjid Nurul Huda Desa Rejosari
2. Bahan :
Bata Merah Berbentuk Busur
3. Periode : Abad
XV Awal Perkembangan Islam di Pulau Jawa
4. Ukuran :
Diameter 50 cm
5. Nama
Pemilik Tanah : Masjid
Nurul Huda Desa Rejosari
6. Yang
Merawat :
Bpk. Kasturi ( Paguyuban Mekar Sari )
7. Keterangan : Gambar
Sebelum Ada Perbaikan
Menurut cerita dari kyai, ulama dan sesepuh desa Rejosari,
dulu Sumur
Wali dibuat oleh Syekh Subakhir. Syekh Subakhir berasal
dari Persia,
selain dakwah beliau menumbali tanah angker yang dihuni jin – jin jahat yang
mengganggu dan menyesatkan manusia. Syekh Subakhir datang di pulau Jawa
pada tahun 1404 M, Syekh Subakhir berdakwah diwilayah Jawa Tengah bersama dengan Sunan
Kudus dan Maulana Al Maghrobi, kemudian Syekh
Subakhir kembali ke Persia tahun 1462 M dan wafat
disana.
Tugas dakwahnya digantikan oleh Sunan Kalijogo, sedangkan
Sumur
Wali tersebut ditemukan oleh Indrojoyo sepulang dari penyerangan
Belanda di Batavia tahun 1628 M, akhirnya Indrojoyo menetap di sekitar Sumur
Wali dan yang merawat pertama Sumur Wali tersebut. Berikut nama –
nama yang merawat sumur wali :
Pertama ± Tahun 1630 : Mbah Indrojoyo
±
Tahun selanjutnya : Tidak
diketahui
± Tahun 1880 : Sarpah
±
Tahun 1900 : Menek
±
Tahun 1935 : Lenged
±
Tahun 1960 :
Sari’ah
±
Tahun 1970 – 1995 : Rustani (
Sirus )
±
Tahun 1996 :
Ra’adi ( Kenjur )
±
Tahun 1997 – 2010 : Kastani
±
Tahun 2011 s/d sekarang : Kasturi
Dari
alur cerita dan penelusuran sejarah maka pembuatan Sumur Wali akan mendekati
pada kisaran pertengahan abad ke 15 atau sekitar tahun 1450 Masehi,
Wallahu’alam…
Pada tanggal 03 Januari
2014 diadakan penataan fisik Sumur Wali oleh Paguyuban Mekar Sari
dan insya Allah kedepan akan diadakan
pembangunan fisik agar lebih terjaga kelestariannya.
MAKAM
MBAH WONGSOPATI DAN MAKAM MBAH INDROJOYO
1. Lokasi : Belakang Balai Desa Rejosari
2. Periode : Masa
Islam Abad ke 17
3. Ukuran
Makam : 2 x 2
meter
4. Kondisi : Baik
Terawat
5. Nama
Pemilik Tanah : Aset
Desa Rejosari
6. Nama
Yang Diberi Kuasa Rawat : Sdr. Daryono ( Paguyuban
Mekar Sari )
7. Tanggal
Penataan Makam : Tahun 2012
8. Keterangan
:
Indrojoyo, Wongsopati
dan Kertijoyo adalah prajurit – prajurit Kerajaan Mataram dibawah panglima perang Bahurekso
dan Adipati Ukur yang menyerang Belanda di Batavia pada tahun 1628 M
dan mengalami kekalahan dengan Belanda kemudian mereka tidak pulang ke kerajaan
Mataram lagi, beliau – beliau singgah dan menetap di Pamutih ( Rejosari sekarang ).
Pada waktu itu
di Pamutih
sudah ada Sumur Wali kemudian beliau – beliau mendirikan mushola kecil di
sekitar Sumur Wali dan mengajarkan agama Islam pada warga sekitar dan
dari ketiga tokoh tersebut Kertijoyo menjadi Lurah
Pamutih yang akhirnya Pamutih menjadi Desa Kertijoyo sebelum
menjadi Desa Rejosari ( sekarang )
Beliau – beliau
meninggal di Desa Rejosari ( sekarang ), kini makam yang tersisa adalah yang
sebelah timur adalah Makam Mbah Indrojoyo dan yang
sebelah barat adalah Makam Mbah Wongsopati, sedangkan
makam tokoh yang lain sudah hilang tergusur oleh pembangunan gedung Balai Desa
Rejosari.
MAKAM
R. TIRTO KUSUMO / MBAH BOJONG
1. Lokasi : Di
Pemakaman Desa Rejosari
2. Periode : Masa
Islam Abad ke 17
3. Ukuran
Makam : 2 x 2
meter
4. Tanda
Makam :
Nisan Batu
5. Kondisi : Baik
Terawat
6. Nama
Yang Diberi Kuasa Rawat : Bpk. Kirno (
Juru Kunci Makam )
7. Tanggal
Penataan Makam : 21 Februari
2014 ( Hari Jum’at Legi )
8. Keterangan :
Mbah
Bojong adalah R. Kusumo atau R. Tirto Kusumo atau R. Hadi Kusumo
juga bergelar Kyai Renggeng atau Kyai Remeng. Beliau anak dari Kyai
Cempaluk dan bersaudara dengan R. Bahurekso. R. Tirto Kusumo mendapat
tugas dari Kyai Cempaluk untuk membuka hutan diarea Gendogo. Awal mula
wilayah Bojong persisnya di area Gendogo itu, sehingga Bojongwetan
terletak disebelah timurnya, Bojonglor terletak disebelah utaranya dan Bojong Minggir
agak jauh ke pinggir utara. Beliau akhirnya menetap di Rejosari sampai akhir
hayat, bukti peninggalan sejarahnya adalah tanah sawah milik warga Rejosari
berada diblok Gendogo sampai sekarang. Ada beberpa versi tentang makna nama
Bojong, versi yang ada di Rejosari dari cerita turun temurun ialah setelah
membuka hutan di Gendogo lalu R. Tirto Kusumo menguntit atau membujung
prajurit – prajurit kerajaan Mataram yang belum kembali ke kerajaan Mataram
setelah kekalahannya dalam penyerangan Belanda di Batavia. Membujung itulah akhirnya jadi
Mbojong
atau Bojong dan sekarang makam lebih dikenal dengan nama Mbah
Bojong
MAKAM MBAH KYAI AHMAD DARUS
1. Lokasi : Di RT
03 RW 01 Desa Rejosari
2. Periode : Masa
Islam abad XIX
3. Ukuran
Makam :
4. Tanda
Makam :
Nisan Beton
5. Kondisi : Baik
6. Nama
Pemilik Tanah : Bpk.
Wijo
7. Nama
Yang Diberi Kuasa Rawat : Bpk. Sudibyo (
Perangkat Desa )
8. Keterangan :
Kyai
Ahmad Darus adalah musafir penyebar agama islam
dari Jawa Barat, beliau datang ke Clalung ( Rejosari sekarang ) untuk
mengajarkan agama Islam di Rejosari khususnya dan Bojong pada umumnya. Beliau
seorang kyai atau ulama yang mempunyai banyak kelebihan.
Beliau menetap
di desa Rejosari sampai akhir hayat, beliau dimakamkan di desa Rejosari. Di
lokasi makam tersebut selain makam Mbah Kyai Ahmad Darus juga ada
makam tokoh lain yaitu Demang Blandong, Ki Singojoyo adalah
pengikut dari R. Tirto Kusumo, kedua tokoh ini adalah yang
membuka atau babat hutan cikal bakal beberapa desa di Bojong pada abad 17
diantaranya desa Bojong Minggir.
SITUS
GUMUK SIGIT
1. Lokasi :
Sawah Bengkok Kadus Desa Rejosari
2. Ukuran
Benda : Luas
± 7 x 6 meter
3. Tanda
Benda :
Gundukan Tanah setinggi ± 1 meter
4. Kondisi :
Kurang Terawat
5. Nama
Pemilik Tanah :
Bengkok Kadus II Desa Rejosari
6. Nama
Yang Diberi Kuasa Rawat : Bpk. Wiyargi (
Kadus II Desa Rejosari )
7. Keterangan :
Dahulu disekitar Gumuk Sigit sering
ditemukan batu – batu datar ( Dolmen ) yang lebar dengan diameter
lebarnya mencapai 1 meter lebih, dan juga ditemukan barang – barang gerabah dan
lain sebagainya. Namun karena kurangnya kepedulian masyarakat terhadap situs
ataupun peninggalan kuno maka benda tersebut tak terurus dan hilang.
Sehingga tak dapat dijadikan penelitian yang lebih
jauh tentang Gumuk Sigit tersebut, hanya perkiraan ataupun cerita turun
temurun dari para sesepuh atau orang tua yang mengatakan bahwa Gumuk
Sigit adalah peninggalan sebelum masa islam. Banyak mitos yang beredar
mengenai hal – hal mistik dan gaib di situs Gumuk Sigit tersebut tapi
kini yang tersisa hanya batu – batu kali yang ukurannya tidak terlalu besar.
Sejak di desa Rejosari ada paguyuban yang peduli
akan kelestarian cagar budaya maka dimulailah perhatian terhadap situs Gumuk
Sigit tersebut
PETA
LOKASI SITUS CAGAR BUDAYA
DESA
REJOSARI
Keterangan
:
1. Situs
Sumur Wali
2. Situs
Makam Indrojoyo dan Makam Wongsopati
3. Situs
Makam R.Tirto Kusumo / Mbah Bojong
4. Situs
Makam Kyai Ahmad Darus
5. Situs
Gumuk Sigit
SEJARAH
SINGKAT
DESA
REJOSARI TAHUN 1906
Rejosari
berasal dari kata Rejo artinya rame atau makmur dan Sari artinya inti atau
pusat. Rejosari dapat diartikan pusat keramaian, pusat kemakmuran.
Dahulu desa Rejosari terdiri dari beberapa pedukuhan diantaranya Pamutih,
Bandosan, Gondang, Clalung, Ngipik, dan Kabangan. Sejak berdirinya
Kadipaten Pekalongan maka dari pedukuhan – pedukuhan tersebut terbentuk dua
desa yaitu Desa Clalung dan Desa Kertijoyo. Desa Kertijoyo mengambil
nama dari tokoh yang telah dijelaskan dalam situs Makam Indrojoyo.
Desa Clalung dan Desa
Kertijoyo masuk dalam wilayah Kademangan Bojong ( seperti dijelaskan dalam situs
R. Tirto Kusumo atau Mbah Bojong ). Kademangan Bojong dibawah
Kadipaten Pekalongan dan masuk wilayah Kerajaan Mataram. Seiring dengan
perkembangan zaman dan perjalanan waktu, pulau Jawa dibawah pemerintahan
Belanda pada tahun 1906 M, Belanda mengeluarkan peraturan desa tujuannya untuk
menciptakan suatu struktur pemerintahan yang lebih rasional dan untuk menjamin
penghasilan yang lebih besar bagi kepala desa, maka dilaksanakan suatu
kebijakan penggabungan desa – desa di pulau Jawa dan hasilnya adalah
diantaranya digabungnya Desa Clalung dan Desa Kertijoyo menjadi satu
desa yaitu Desa Rejosari.
Dari analisa sejarah
dan penelusuran tersebut diatas kiranya dapat disimpulkan bahwa berdirinya desa
Rejosari akan lebih mendekati kebenarannya apabila berpedoman pada tahun 1906 M.
Adapun untuk pedoman penetapan bulan dan tanggal masih perlu penelusuran lebih
jauh. Berikut nama – nama yang menjabat
Kepala Desa Rejosari :
1. Dasi Tahun 1906 s/d Tahun 1915
2. Wiryo Tahun 1915 s/d Tahun 1930
3. Wahuk Tahun 1930 s/d Tahun 1948
4. Ta’adi Tahun 1948 s/d Tahun 1965
5. Salas Tahun 1967 s/d Tahun 1988
6. Rokhidin Tahun 1988 s/d Tahun 1999
7. Nurjanah Tahun 1999 s/d Tahun 2007
8. Bambang
Muhardi Tahun 2007 s/d Tahun 2013
9. Siswoyo,
S.Pd. Tahun 2013 s/d sekarang
Nama – nama tersebut
tidak termasuk yang pernah menjabat Warnen atau Plt, misalnya untuk kekosongan
tahun 1965 – 1967 dijabat oleh Warnen / Plt adalah Supardan
Dalam penulisan buku
Upaya Pelestarian Cagar Budaya dan sejarah desa Rejosari hubungannya sangat
erat dan tak dapat dipisahkan, dari adanya situs – situs di desa Rejosari
menjadikan penelusuran sejarah desa Rejosari sangat diperlukan analisa ataupun
resume yang didapat dari situs tersebut menghasilkan suatu pendapat ataupun
petunjuk bahwa tanah di desa Rejosari, mungkin ada nilai positif yang lebih
dibandingkan dengan desa lain. Mari kita coba tengok yang paling jauh
kebelakang dari yang pertama adanya situs Gumuk Sigit. Di situs Gumuk
Sigit ada penemuan dua buah situs dalam satu lokasi hal ini sangat
jarang sekali, adanya batu – batu datar semacam dolmen, tempat meletakkan
sesaji guna memuja arwah nenek moyangnya. Dolmen tersebut diperkirakan pada
masa zaman Neolithikum, kira – kira 200 tahun sebelum Masehi ( menurut teori
purbakala ). Namun sayang dolmen – dolmen itu kini hilang entah kemana sehingga
tidak dapat dijadikan penelitian lebih jauh. Andai itu benar, menunjukan di desa Rejosari kala itu sudah
ada peradaban manusia yang terpandang atau kharimastik di zaman itu.
Selanjutnya masih di
area situs Gumuk Sigit ditemukannya barang tembikar semacam guci dari
tiongkok dan butiran emas sebesar biji buah salam biasa disebut Emas
Budha. Agak memungkinkan bahwa pada abad V musafir Budha yang bernama Fa
Hien yang datang di pulau Jawa singgah di Rejosari. Hal tersebut dapat
dibuktikan atau diketahui dengan banyak diketemukannya barang keramik China
tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Pada abad XV desa Rejosari juga
disinggahi ulama besar dari Persia, beliau Syekh Subakir peninggalannya Sumur
Wali. Pada abad XVII juga datang dan menetap sampai akhir hayat
prajurit Kerajaan Mataram sepulang dari Batavia mereka Indrojoyo,
Wongsopati dan Kertijoyo. Pada abad yang sama juga datang R.
Tirto
Kusumo atau lebih dikenal Demang Bojong, terakhir pada abad XIX musafir
penyebar agama Islam Kyai Ahmad Darus.
Kiranya dari kedatangan
beliau – beliau di Rejosari menunjukan bahwa desa Rejosari mempunyai magnet
atau aura yang nilai positifnya lebih dibandingkan dengan desa lain. Dari
itulah kiranya tidak berlebihan apabila kita sebagai generasi sekarang warga
desa Rejosari selalu melestarikan situs – situs dan adat budaya yang ada di
desa Rejosari selama ini agar menjadikan warga desa Rejosari selalu menghasilkan
sesuatu yang bernilai positif moril maupun materiil. Sehingga desa Rejosari
yang bermakna pusat kemakmuran akan dapat terwujud. Amin…
Demikian sejarah
singkat berdirinya Desa Rejosari, semoga ada guna dan manfaatnya serta koreksi
dan saran sangat dinantikan untuk perbaikan tulisan sejarah desa Rejosari ini.
Penghimpun Materi
MOCH.
SUBECHI
PRAKIRAAN PETA DESA REJOSARI
SEMASA
PEDUKUHAN SEBELUM ABAD 17
Keterangan
:
1. Hijau :
Dukuh Pamutih
2. Kuning :
Dukuh Bandosan
3. Merah :
Dukuh Clalung
4. Biru :
Dukuh Ngipik
5. Coklat :
Dukuh Gondang
6. Orange :
Sawah Kabangan
7. Abu
– abu : Sawah Genjahan
PETA
DESA CLALUNG DAN DESA KERTIJOYO
SAMPAI DENGAN TAHUN 1906
SEBELUM
MENJADI DESA REJOSARI
Keterangan
:
1. Merah :
Desa Clalung
2. Hijau : Desa Kertijoyo
3. Abu
– abu : Sawah Genjahan
4. Orange : Sawah Kabangan
PROGRAM
PELESTARIAN CAGAR BUDAYA
DESA
REJOSARI
Program cagar budaya agar tidak terkesan
instan atau mendadak sebaiknya dibagi dalam 3 tahapan yaitu :
1. Program jangka pendek, sasaran
target sebagai berikut :
a. Perawatan
kebersihan secara rutin misalnya tiap jum’at
2. Program jangka menengah
a. Pembuatan
pagar keamanan agar aman dan terjaga
b. Koordinasi
antar pihak pemerintahan desa dengan pemilik tanah dan warga sekitar sehingga
ada kejelasan status tanah tersebut
3. Program jangka panjang
a. Diadakan
khaul pada waktu sedekah bumi ataupun yang lainnya yang bersifat religius
b. Disosialisasikan
pada generasi kita misalnya pada legenanan di Balai Desa
c. Sebagai
cagar budaya yang lestari sehingga dapat diketahui generasi mendatang sebagai
bukti bahwa warga desa Rejosari tetap menghormati leluhur dan mengetahui asal
muasal desanya yang merupakan bentuk karakteristik jati diri warga yang berbudi
luhur.
KESIMPULAN
PENUTUP
Dari
alur tulisan yang saya sampaikan tersebut kiranya agak mendekati kemiripan
belum sampai pada kebenaran karena masih perlu kajian penelusuran sumber yang
lebih jauh dan mendalam
Namun
paling tidak walau samar – samar sudah ada arah yang jelas, kiranya penulis
mohon saran, tanggapan dan ataupun nasihat dari semua pihak, pemerintah desa,
sesepuh, tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk bersama – sama menjaga
kelestarian situs – situs tersebut menjadi Cagar Budaya Desa Rejosari
“ YANG
PADA AKHIRNYA NANTI JADI LAMBANG JATI DIRI ATAU CIRI KHAS TETENGERNYA DESA
REJOSARI “
DAFTAR
PUSTAKA
- Buku Sejarah, untuk SMA IPS Jilid I Kurikulum 1994. Sudiyoto Adi Pranoto, Penerbit Widya Duta Surakarta
- YB. Prabaswara. Siti Jenar Cikal Bakal Paham Kejawen, Penerbit Armedia Jakarta
- Hildred Geertz. Keluarga Jawa. Penerbit Grafiti Press 1983
- Pelestarian Cagar Budaya di Kabupaten Pekalongan tahun 2013
- M.C Ricklefs. Gajah mada University Press tahun 1998 / 1999, Sejarah Indonesia Modern
- Upacara Tradisional Daur Hidup Kab. Pekalongan, kantor Pariwisata Kab. Pekalongan. Tahun 2003
- Drs. Soekatno Tirto Wijoyo dan Supeno. Zaman Prasejarah PT Priastu tahun 1984
- Drs. Kaeso, Drs. Amin dkk. Sejarah SMTA Kurikulum 1984
- Penyebar Semangat No. 36 tahun 2007
- Penyebar Semangat No. 16 tahun 2014
- Kompas tanggal 28 Maret 2014
TANGGAPAN
DARI TOKOH MASYARAKAT / TOKOH AGAMA
MENGENAI
PELESTARIAN CAGAR BUDAYA
DI
DESA REJOSARI KECAMATAN BOJONG
Assalamua’alaikum
Wr. Wb.
Warga
masyarakat yang baik adalah yang menghargai, menghormati dan mikul dhuwur
mendhem jero para leluhur dan pendahulunya.
Kami
selaku warga masyarakat desa Rejosari sangat menyambut baik dan mendukung
dengan disusunnya buku Upaya Pelestarian Cagar Budaya Desa Rejosari, kami
merasa bangga dan senang, dizaman yang serba canggih dan modern penuh dengan
kesibukan masih ada generasi penerus yang peduli untuk melestarikan warisan
budaya yang sudah lama tidak terawat dan terurusi.
Sehingga
dengan adanya buku yang menceritakan peninggalan sejarah dan cikal bakal desa
Rejosari dapat menambah pengertian kita dan generasi penerus yang tadinya tidak
tahu akan mengenal, yang tidak mengenal akan peduli dan yang tadinya tidak
peduli mau menghormati, menghargai, merawat dan melestarikannya.
Harapan
kami kita perlu nguri – uri, merawat, menghormati dan melestarikan cagar budaya
namun jangan sampai mendewa- dewakan sehingga terjerumus pada perbuatan syirik
yang tidak sesuai dengan aqidah dan tuntunan agama.
Semoga
Allah SWT memberikan ridho keselamatan dan keberkahan. Amin…
Wassalamua’alaikum
Wr. Wb.
H.
SATOTO, S.Pd.
TANGGAPAN
DARI TOKOH MASYARAKAT / TOKOH AGAMA
MENGENAI
PELESTARIAN CAGAR BUDAYA
DI
DESA REJOSARI KECAMATAN BOJONG
Assalamua’alaikum Wr.
Wb.
Dengan
penuh rasa syukur saya menyambut baik atas adanya buku Upaya Pelestarian Cagar
Budaya Desa Rejosari, dengan adanya buku ini kiranya dapat meberikan gambaran
dan informasi kepada warga masyarakat tentang Pelestarian Cagar Budaya di desa
Rejosari sekaligus sebagai salah satu usaha penggalian dan pelestarian nilai
budaya sebagai mata rantai yang menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa
yang akan datang.
Semoga
buku ini membantu masyarakat dalam mengembangkan wawasan budayanya dan
meningkatkan kecintaannya pada nilai – nilai luhur budaya bangsa. Kepada tim
penulis Upaya Pelestarian Cagar Budaya Desa Rejosari, kami apresiasikan atas
usaha penelusuran sejarah di desa Rejosari sehingga terlaksananya pengadaan
buku ini.
Semoga Allah SWT selalu
mencurahkan ridhonya. Amin…
Wassalamua’alaikum
Wr. Wb.
H.
RASMANI
Silahkan Unduh/Download Link dibawah :
http://www.4shared.com/office/rpgvn1klce/buku_upaya_pelestarian_cagar_b.html






