Jumat, 16 Mei 2014

UPAYA PELESTARIAN CAGAR BUDAYA

TIM PENYUSUN :

Pengarah
Siswoyo, S.Pd. ( Kepala Desa Rejosari )

Narasumber
Pemerintah Desa Rejosari
Tokoh dan Sesepuh Desa Rejosari
Warga Paguyuban “ Mekar Sari Desa Rejosari 


Penghimpun Materi / Konsep Naskah
Moch. Subechi

Pengetikan Naskah
Sugito

Gambar / Foto

Darmanto
Rasjo



KATA PENGANTAR PENULIS

Bismillah hirohman nirohim
Assalamua’alaikum Wr. Wb.

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik dan hidayahNya, sehingga saya tergerak hatinya untuk menulis, mengutarakan dan mengusulkan kepada pemerintah desa Rejosari akan hal mengenai pelestarian cagar budaya yang ada di desa Rejosari tercinta ini.
            Penulis tidak ada maksud ataupun niat lain dalam membuat tulisan ini, hanya semata – mata ingin nguri – uri melestarikan situs warisan leluhur desa Rejosari dan demi terjaganya peninggalan situs – situs tersebut sebagai cagar budaya.
            Penulis sadar apa yang saya tulis ini masih sangat minim sumbernya dari para sesepuh desa dan orang – orang tua yang dimintai sebagai narasumber sangat kurang, bahkan tidak ada sama sekali.
            Harapan penulis hanyalah bila warga desa Rejosari atau siapapun pernah mendengar tentang situs – situs tersebut, mohon untuk memberi informasi kepada penulis, sehingga dapat melengkapi tulisan ini dan lebih mendekati kebenarannya.
            Terima kasih kami haturkan kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan peran serta sehingga tulisan ini dapat terwujud. Semua itu demi desa Rejosari yang tercinta dan kami banggakan

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Rejosari,       Desember 2013
Penulis


MOCH. SUBECHI





SAMBUTAN KEPALA DESA REJOSARI KECAMATAN BOJONG
TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

            Telah kita ketahui bersama bahwa bangsa yang baik adalah bangsa  yang mau menghargai sejarah JASMERAH, Jangan sekali – kali meninggalkan sejarah.
            Cagar budaya merupakan petilasan dan sekaligus unsur atau bagian sejarah, oleh karena itu kelestariannya perlu dijaga.
            Selaku Kepala Desa, kami merasa ikut bertanggungjawab adanya cagar budaya yang terdapat di wilayah desa Rejosari.
            Kami sangat setuju dan mendukung adanya pembuatan buku yang memuat tentang peninggalan sejarah yang berupa cagar budaya. Dikandung maksud untuk menambah wawasan kita dan yang lebih penting lagi adalah untuk memberi warisan kepada generasi penerus bangsa yang berbudi luhur.
            Semoga tujuan atau niat baik ini mendapat ridho dari Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa.
Amin ya Robbal alamin

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Rejosari,    Maret 2014
Kepala Desa Rejosari



SISWOYO, S.Pd








SAMBUTAN BPD DESA REJOSARI
TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA

Assalamua’alaikum Wr. Wb.

            Peninggalan sejarah merupakan bukti otentik yang bisa kita jadikan dasar mengetahui sejarah perjalanan bangsa ( desa ) kita. Dari peninggalan sejarah itu tersimpan beragam nilai yang penting untuk diketahui oleh generasi muda.
            Nilai itu menyangkut sejarah pembuatan atau penggunaan seni arsitektur yang digunakan dan mengapa peninggalan itu dibuat, bagi generasi penerus bisa dijadikan cermin bagaimana tahap kehidupan bangsa atau desa pada masa itu.
            BPD Desa Rejosari Kecamatan Bojong Kabupaten Pekalongan, dengan adanya buku yang memuat tentang peninggalan sejarah yang ada di desa Rejosari sebagai warisan luhur semoga dapat menambah wawasan keilmuan dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa ( Allah ) bagi para pembacanya.
            Akhirnya mari dengan membaca Bismillahirohmannirrohim “  dengan niat yang baik dan tulus ikhlas ini tidak akan mengaburkan bahkan menyimpang dari ajaran agama kita dan semoga selalu mendapat rahmat dan ridho dari Allah SWT Amin…

Wassalamua’alaikum Wr. Wb.


Ketua BPD Desa Rejosari



Drs. H. WARTOYO








PENDAHULUAN

            Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju dan teknologi yang semakin canggih serta derasnya arus globalisasi maka mau tak mau kita harus terima keberadaannya disekitar kita. Hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan bermasyarakat kita dalam hal apapun juga termasuk hal nguri – uri budaya leluhur, asal muasal dan melestarikan sesuatu yang menurut kalangan generasi sekarang sudah tidak rasional serta ketinggalan zaman.
            Melihat adanya beberapa peninggalan di desa Rejosari yang berbentuk makam dan situs lainnya yang usianya sudah ratusan tahun, seyogyanya mari kita telusuri sejarahnya dan kita pelihara sehingga dapat dijadikan cagar budaya. Kita jangan berpikiran sempit andai cagar budaya tersebut kita rawat keberadaan dan keutuhanya demi kelestarian aset budaya dan napak tilas dari para pendahulu kita, sebagai bukti dan saksi sejarah bahwa di desa Rejosari sudah ada peradaban kehidupan yang strata sosialnya sangat kharimastik di wilayah Kecamatan Bojong.
            Dan yang lebih penting lagi adalah situs makam tersebut adalah tokoh – tokoh yang memang seharusnya kita hormati. Beruntung situs – situs tersebut belum terlanjur hilang sehingga masih dapat kita jaga kelestariannya. Pelestarian cagar budaya bukan tempat pemujaan dan sebagainya, namun sebagai saksi bisu atau sumber kajian dan referensi bagi generasi mendatang, dan sebagai bentuk pendidikan atau edukasi bagi anak cucu kita nanti, yang diharapkan selalu menghormati sesepuhnya sehingga menjadi manusia atau anak yang berbudi luhur dan tidak tenggelam oleh gempuran derasnya pengaruh globalisasi.













SUMUR WALI
 



1.      Lokasi                                           : Belakang Masjid Nurul Huda Desa Rejosari
2.      Bahan                                            : Bata Merah Berbentuk Busur
3.      Periode                                          : Abad XV Awal Perkembangan Islam di Pulau Jawa
4.      Ukuran                                          : Diameter 50 cm
5.      Nama Pemilik Tanah                     : Masjid Nurul Huda Desa Rejosari
6.      Yang Merawat                              : Bpk. Kasturi ( Paguyuban Mekar Sari )
7.      Keterangan                                    : Gambar Sebelum Ada Perbaikan
Menurut cerita dari kyai, ulama dan sesepuh desa Rejosari, dulu Sumur Wali dibuat oleh Syekh Subakhir. Syekh Subakhir berasal dari Persia, selain dakwah beliau menumbali tanah angker yang dihuni jin – jin jahat yang mengganggu dan menyesatkan manusia. Syekh Subakhir datang di pulau Jawa pada tahun 1404 M, Syekh Subakhir berdakwah diwilayah Jawa Tengah bersama dengan Sunan Kudus dan Maulana Al Maghrobi, kemudian Syekh Subakhir kembali ke Persia tahun 1462 M dan wafat disana.
Tugas dakwahnya digantikan oleh Sunan Kalijogo, sedangkan Sumur Wali tersebut ditemukan oleh Indrojoyo sepulang dari penyerangan Belanda di Batavia tahun 1628 M, akhirnya Indrojoyo menetap di sekitar Sumur Wali dan yang merawat pertama Sumur Wali tersebut. Berikut nama – nama yang merawat sumur wali :
            Pertama            ± Tahun 1630                          : Mbah Indrojoyo
                                    ± Tahun selanjutnya                  : Tidak diketahui
                                    ± Tahun 1880                          : Sarpah      
                                    ± Tahun 1900                         : Menek
                                    ± Tahun 1935                          : Lenged
                                    ± Tahun 1960                          : Sari’ah
                                    ± Tahun 1970 – 1995              : Rustani ( Sirus )
                                    ± Tahun 1996                          : Ra’adi ( Kenjur )
                                    ± Tahun 1997 – 2010              : Kastani
                                    ± Tahun 2011  s/d sekarang    : Kasturi
            Dari alur cerita dan penelusuran sejarah maka pembuatan Sumur Wali akan mendekati pada kisaran pertengahan abad ke 15 atau sekitar tahun 1450 Masehi, Wallahu’alam…
Pada tanggal 03 Januari 2014 diadakan penataan fisik Sumur Wali oleh Paguyuban Mekar Sari dan insya Allah  kedepan akan diadakan pembangunan fisik agar lebih terjaga kelestariannya. 


MAKAM MBAH WONGSOPATI DAN MAKAM MBAH INDROJOYO


1.      Lokasi                                           : Belakang Balai Desa Rejosari
2.      Periode                                         : Masa Islam Abad ke 17
3.      Ukuran Makam                             : 2 x 2 meter
4.      Kondisi                                         : Baik Terawat
5.      Nama Pemilik Tanah                     : Aset Desa Rejosari
6.      Nama Yang Diberi Kuasa Rawat  : Sdr. Daryono ( Paguyuban Mekar Sari )
7.      Tanggal Penataan Makam             : Tahun 2012
8.      Keterangan                                    :
Indrojoyo, Wongsopati dan Kertijoyo adalah prajurit – prajurit  Kerajaan Mataram dibawah panglima perang Bahurekso dan Adipati Ukur yang menyerang Belanda di Batavia pada tahun 1628 M dan mengalami kekalahan dengan Belanda kemudian mereka tidak pulang ke kerajaan Mataram lagi, beliau – beliau singgah dan menetap di Pamutih   ( Rejosari sekarang ).
Pada waktu itu di Pamutih sudah ada Sumur Wali kemudian beliau – beliau mendirikan mushola kecil di sekitar Sumur Wali dan mengajarkan agama Islam pada warga sekitar dan dari ketiga tokoh tersebut Kertijoyo menjadi Lurah Pamutih yang akhirnya Pamutih menjadi Desa Kertijoyo sebelum menjadi Desa Rejosari ( sekarang )
Beliau – beliau meninggal di Desa Rejosari ( sekarang ), kini makam yang tersisa adalah yang sebelah timur adalah Makam Mbah Indrojoyo dan yang sebelah barat adalah Makam Mbah Wongsopati, sedangkan makam tokoh yang lain sudah hilang tergusur oleh pembangunan gedung Balai Desa Rejosari.
MAKAM R. TIRTO KUSUMO / MBAH BOJONG




1.      Lokasi                                            : Di Pemakaman Desa Rejosari
2.      Periode                                          : Masa Islam Abad ke 17
3.      Ukuran Makam                              : 2 x 2 meter
4.      Tanda Makam                                : Nisan Batu
5.      Kondisi                                          : Baik Terawat
6.      Nama Yang Diberi Kuasa Rawat    : Bpk. Kirno ( Juru Kunci Makam )
7.      Tanggal Penataan Makam               : 21 Februari 2014 ( Hari Jum’at Legi )
8.      Keterangan                                    :
Mbah Bojong adalah R. Kusumo atau R. Tirto Kusumo atau R. Hadi Kusumo juga bergelar Kyai Renggeng atau Kyai Remeng. Beliau anak dari Kyai Cempaluk dan bersaudara dengan R. Bahurekso. R. Tirto Kusumo mendapat tugas dari Kyai Cempaluk untuk membuka hutan diarea Gendogo. Awal mula wilayah Bojong persisnya di area Gendogo itu, sehingga Bojongwetan terletak disebelah timurnya, Bojonglor terletak disebelah utaranya dan Bojong Minggir agak jauh ke pinggir utara. Beliau akhirnya menetap di Rejosari sampai akhir hayat, bukti peninggalan sejarahnya adalah tanah sawah milik warga Rejosari berada diblok Gendogo sampai sekarang. Ada beberpa versi tentang makna nama Bojong, versi yang ada di Rejosari dari cerita turun temurun ialah setelah membuka hutan di Gendogo lalu R. Tirto Kusumo menguntit atau membujung prajurit – prajurit kerajaan Mataram yang belum kembali ke kerajaan Mataram setelah kekalahannya dalam penyerangan Belanda di Batavia. Membujung itulah akhirnya jadi Mbojong atau Bojong dan sekarang makam lebih dikenal dengan nama Mbah Bojong


MAKAM MBAH KYAI AHMAD DARUS


1.      Lokasi                                          : Di RT 03 RW 01 Desa Rejosari
2.      Periode                                         : Masa Islam abad XIX
3.      Ukuran Makam                             : 
4.      Tanda Makam                               : Nisan Beton
5.      Kondisi                                         : Baik
6.      Nama Pemilik Tanah                      : Bpk. Wijo
7.      Nama Yang Diberi Kuasa Rawat   : Bpk. Sudibyo ( Perangkat Desa )
8.      Keterangan                                    :
Kyai Ahmad Darus adalah musafir penyebar agama islam dari Jawa Barat, beliau datang ke Clalung ( Rejosari sekarang ) untuk mengajarkan agama Islam di Rejosari khususnya dan Bojong pada umumnya. Beliau seorang kyai atau ulama yang mempunyai banyak kelebihan.
Beliau  menetap di desa Rejosari sampai akhir hayat, beliau dimakamkan di desa Rejosari. Di lokasi makam tersebut selain makam Mbah Kyai Ahmad Darus juga ada makam tokoh lain yaitu Demang Blandong, Ki Singojoyo adalah pengikut dari R. Tirto Kusumo, kedua tokoh ini adalah yang membuka atau babat hutan cikal bakal beberapa desa di Bojong pada abad 17 diantaranya desa Bojong Minggir.



SITUS GUMUK SIGIT


1.      Lokasi                                           : Sawah Bengkok Kadus Desa Rejosari
2.      Ukuran Benda                               : Luas ± 7 x 6 meter
3.      Tanda Benda                                 : Gundukan Tanah setinggi ± 1 meter
4.      Kondisi                                         : Kurang Terawat
5.      Nama Pemilik Tanah                     : Bengkok Kadus II Desa Rejosari
6.      Nama Yang Diberi Kuasa Rawat : Bpk. Wiyargi ( Kadus II Desa Rejosari )
7.      Keterangan                                    :
Dahulu disekitar Gumuk Sigit sering ditemukan batu – batu datar ( Dolmen ) yang lebar dengan diameter lebarnya mencapai 1 meter lebih, dan juga ditemukan barang – barang gerabah dan lain sebagainya. Namun karena kurangnya kepedulian masyarakat terhadap situs ataupun peninggalan kuno maka benda tersebut tak terurus dan hilang.
Sehingga tak dapat dijadikan penelitian yang lebih jauh tentang Gumuk Sigit tersebut, hanya perkiraan ataupun cerita turun temurun dari para sesepuh atau orang tua yang mengatakan bahwa Gumuk Sigit adalah peninggalan sebelum masa islam. Banyak mitos yang beredar mengenai hal – hal mistik dan gaib di situs Gumuk Sigit tersebut tapi kini yang tersisa hanya batu – batu kali yang ukurannya tidak terlalu besar.
Sejak di desa Rejosari ada paguyuban yang peduli akan kelestarian cagar budaya maka dimulailah perhatian terhadap situs Gumuk Sigit tersebut




PETA LOKASI SITUS CAGAR BUDAYA
DESA REJOSARI
                            


Keterangan :
1.     Situs Sumur Wali
2.     Situs Makam Indrojoyo dan Makam Wongsopati
3.     Situs Makam R.Tirto Kusumo / Mbah Bojong
4.     Situs Makam Kyai Ahmad Darus
5.     Situs Gumuk Sigit                                         






SEJARAH SINGKAT
DESA REJOSARI TAHUN 1906

Rejosari berasal dari kata Rejo artinya rame atau makmur dan Sari artinya inti atau pusat. Rejosari dapat diartikan pusat keramaian, pusat kemakmuran. Dahulu desa Rejosari terdiri dari beberapa pedukuhan diantaranya Pamutih, Bandosan, Gondang, Clalung, Ngipik, dan Kabangan. Sejak berdirinya Kadipaten Pekalongan maka dari pedukuhan – pedukuhan tersebut terbentuk dua desa yaitu Desa Clalung dan Desa Kertijoyo. Desa Kertijoyo mengambil nama dari tokoh yang telah dijelaskan dalam situs Makam Indrojoyo.
Desa Clalung dan Desa Kertijoyo masuk dalam wilayah Kademangan Bojong            ( seperti dijelaskan dalam situs R. Tirto Kusumo atau Mbah Bojong ). Kademangan Bojong dibawah Kadipaten Pekalongan dan masuk wilayah Kerajaan Mataram. Seiring dengan perkembangan zaman dan perjalanan waktu, pulau Jawa dibawah pemerintahan Belanda pada tahun 1906 M, Belanda mengeluarkan peraturan desa tujuannya untuk menciptakan suatu struktur pemerintahan yang lebih rasional dan untuk menjamin penghasilan yang lebih besar bagi kepala desa, maka dilaksanakan suatu kebijakan penggabungan desa – desa di pulau Jawa dan hasilnya adalah diantaranya digabungnya Desa Clalung dan Desa Kertijoyo menjadi satu desa yaitu Desa Rejosari.
Dari analisa sejarah dan penelusuran tersebut diatas kiranya dapat disimpulkan bahwa berdirinya desa Rejosari akan lebih mendekati kebenarannya apabila berpedoman pada tahun 1906 M. Adapun untuk pedoman penetapan bulan dan tanggal masih perlu penelusuran lebih jauh. Berikut nama – nama yang  menjabat Kepala Desa Rejosari :
1.      Dasi                                   Tahun  1906    s/d       Tahun 1915
2.      Wiryo                                Tahun  1915    s/d       Tahun 1930
3.      Wahuk                               Tahun  1930    s/d       Tahun 1948
4.      Ta’adi                                Tahun  1948    s/d       Tahun 1965
5.      Salas                                  Tahun  1967    s/d       Tahun 1988
6.      Rokhidin                            Tahun  1988    s/d       Tahun 1999
7.      Nurjanah                            Tahun  1999    s/d       Tahun 2007
8.      Bambang Muhardi              Tahun  2007    s/d       Tahun 2013
9.      Siswoyo, S.Pd.                  Tahun 2013     s/d sekarang   
Nama – nama tersebut tidak termasuk yang pernah menjabat Warnen atau Plt, misalnya untuk kekosongan tahun 1965 – 1967 dijabat oleh Warnen / Plt adalah Supardan
Dalam penulisan buku Upaya Pelestarian Cagar Budaya dan sejarah desa Rejosari hubungannya sangat erat dan tak dapat dipisahkan, dari adanya situs – situs di desa Rejosari menjadikan penelusuran sejarah desa Rejosari sangat diperlukan analisa ataupun resume yang didapat dari situs tersebut menghasilkan suatu pendapat ataupun petunjuk bahwa tanah di desa Rejosari, mungkin ada nilai positif yang lebih dibandingkan dengan desa lain. Mari kita coba tengok yang paling jauh kebelakang dari yang pertama adanya situs Gumuk Sigit. Di situs Gumuk Sigit ada penemuan dua buah situs dalam satu lokasi hal ini sangat jarang sekali, adanya batu – batu datar semacam dolmen, tempat meletakkan sesaji guna memuja arwah nenek moyangnya. Dolmen tersebut diperkirakan pada masa zaman Neolithikum, kira – kira 200 tahun sebelum Masehi ( menurut teori purbakala ). Namun sayang dolmen – dolmen itu kini hilang entah kemana sehingga tidak dapat dijadikan penelitian lebih jauh. Andai itu benar,  menunjukan di desa Rejosari kala itu sudah ada peradaban manusia yang terpandang atau kharimastik di zaman itu.
Selanjutnya masih di area situs Gumuk Sigit ditemukannya barang tembikar semacam guci dari tiongkok dan butiran emas sebesar biji buah salam biasa disebut Emas Budha. Agak memungkinkan bahwa pada abad V musafir Budha yang bernama Fa Hien yang datang di pulau Jawa singgah di Rejosari. Hal tersebut dapat dibuktikan atau diketahui dengan banyak diketemukannya barang keramik China tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Pada abad XV desa Rejosari juga disinggahi ulama besar dari Persia, beliau Syekh Subakir peninggalannya Sumur Wali. Pada abad XVII juga datang dan menetap sampai akhir hayat prajurit Kerajaan Mataram sepulang dari Batavia mereka Indrojoyo, Wongsopati dan Kertijoyo. Pada abad yang sama juga datang R. Tirto Kusumo atau lebih dikenal Demang Bojong, terakhir pada abad XIX musafir penyebar agama Islam Kyai Ahmad Darus.
Kiranya dari kedatangan beliau – beliau di Rejosari menunjukan bahwa desa Rejosari mempunyai magnet atau aura yang nilai positifnya lebih dibandingkan dengan desa lain. Dari itulah kiranya tidak berlebihan apabila kita sebagai generasi sekarang warga desa Rejosari selalu melestarikan situs – situs dan adat budaya yang ada di desa Rejosari selama ini agar menjadikan warga desa Rejosari selalu menghasilkan sesuatu yang bernilai positif moril maupun materiil. Sehingga desa Rejosari yang bermakna pusat kemakmuran akan dapat terwujud. Amin…
Demikian sejarah singkat berdirinya Desa Rejosari, semoga ada guna dan manfaatnya serta koreksi dan saran sangat dinantikan untuk perbaikan tulisan sejarah desa Rejosari ini.

Penghimpun Materi
MOCH. SUBECHI







PRAKIRAAN PETA DESA REJOSARI
SEMASA PEDUKUHAN SEBELUM ABAD 17

            

                              
Keterangan :
1.     Hijau               : Dukuh Pamutih
2.     Kuning            : Dukuh Bandosan
3.     Merah              : Dukuh Clalung
4.     Biru                 : Dukuh Ngipik
5.     Coklat             : Dukuh Gondang
6.     Orange            : Sawah Kabangan
7.     Abu – abu       : Sawah Genjahan



PETA DESA CLALUNG DAN DESA KERTIJOYO
 SAMPAI DENGAN TAHUN 1906
SEBELUM MENJADI DESA REJOSARI
                            




Keterangan :
1.     Merah              : Desa Clalung
2.     Hijau               : Desa Kertijoyo
3.     Abu – abu       : Sawah Genjahan
4.     Orange            : Sawah Kabangan






PROGRAM PELESTARIAN CAGAR BUDAYA
DESA REJOSARI

Program cagar budaya agar tidak terkesan instan atau mendadak sebaiknya dibagi dalam 3 tahapan yaitu :
1.      Program jangka pendek, sasaran target sebagai berikut :
a.       Perawatan kebersihan secara rutin misalnya tiap jum’at
2.      Program jangka menengah
a.       Pembuatan pagar keamanan agar aman dan terjaga
b.      Koordinasi antar pihak pemerintahan desa dengan pemilik tanah dan warga sekitar sehingga ada kejelasan status tanah tersebut
3.      Program jangka panjang
a.       Diadakan khaul pada waktu sedekah bumi ataupun yang lainnya yang bersifat religius
b.      Disosialisasikan pada generasi kita misalnya pada legenanan di Balai Desa
c.       Sebagai cagar budaya yang lestari sehingga dapat diketahui generasi mendatang sebagai bukti bahwa warga desa Rejosari tetap menghormati leluhur dan mengetahui asal muasal desanya yang merupakan bentuk karakteristik jati diri warga yang berbudi luhur.












KESIMPULAN PENUTUP

            Dari alur tulisan yang saya sampaikan tersebut kiranya agak mendekati kemiripan belum sampai pada kebenaran karena masih perlu kajian penelusuran sumber yang lebih jauh dan mendalam
            Namun paling tidak walau samar – samar sudah ada arah yang jelas, kiranya penulis mohon saran, tanggapan dan ataupun nasihat dari semua pihak, pemerintah desa, sesepuh, tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk bersama – sama menjaga kelestarian situs – situs tersebut menjadi Cagar Budaya Desa Rejosari







  “ YANG PADA AKHIRNYA NANTI JADI LAMBANG JATI DIRI ATAU CIRI KHAS TETENGERNYA DESA REJOSARI “












DAFTAR PUSTAKA

  1.      Buku Sejarah, untuk SMA IPS Jilid I Kurikulum 1994. Sudiyoto Adi Pranoto, Penerbit Widya Duta Surakarta
  2.      YB. Prabaswara. Siti Jenar Cikal Bakal Paham Kejawen, Penerbit Armedia Jakarta
  3.      Hildred Geertz. Keluarga Jawa. Penerbit Grafiti Press 1983
  4.            Pelestarian Cagar Budaya di Kabupaten Pekalongan tahun 2013
  5.            M.C Ricklefs. Gajah mada University  Press tahun 1998 / 1999, Sejarah Indonesia Modern
  6.      Upacara Tradisional Daur Hidup Kab. Pekalongan, kantor Pariwisata Kab. Pekalongan. Tahun 2003
  7.             Drs. Soekatno Tirto Wijoyo dan Supeno. Zaman Prasejarah PT Priastu tahun 1984
  8.              Drs. Kaeso, Drs. Amin dkk. Sejarah SMTA Kurikulum 1984
  9.             Penyebar Semangat No. 36 tahun 2007
  10.      Penyebar Semangat No. 16 tahun 2014
  11.       Kompas tanggal 28 Maret 2014










TANGGAPAN DARI TOKOH MASYARAKAT / TOKOH AGAMA
MENGENAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA
DI DESA REJOSARI KECAMATAN BOJONG

Assalamua’alaikum Wr. Wb.

            Warga masyarakat yang baik adalah yang menghargai, menghormati dan mikul dhuwur mendhem jero para leluhur dan pendahulunya.
            Kami selaku warga masyarakat desa Rejosari sangat menyambut baik dan mendukung dengan disusunnya buku Upaya Pelestarian Cagar Budaya Desa Rejosari, kami merasa bangga dan senang, dizaman yang serba canggih dan modern penuh dengan kesibukan masih ada generasi penerus yang peduli untuk melestarikan warisan budaya yang sudah lama tidak terawat dan terurusi.
            Sehingga dengan adanya buku yang menceritakan peninggalan sejarah dan cikal bakal desa Rejosari dapat menambah pengertian kita dan generasi penerus yang tadinya tidak tahu akan mengenal, yang tidak mengenal akan peduli dan yang tadinya tidak peduli mau menghormati, menghargai, merawat dan melestarikannya.
            Harapan kami kita perlu nguri – uri, merawat, menghormati dan melestarikan cagar budaya namun jangan sampai mendewa- dewakan sehingga terjerumus pada perbuatan syirik yang tidak sesuai dengan aqidah dan tuntunan agama.
            Semoga Allah SWT memberikan ridho keselamatan dan keberkahan. Amin…

Wassalamua’alaikum Wr. Wb.




H. SATOTO, S.Pd.







TANGGAPAN DARI TOKOH MASYARAKAT / TOKOH AGAMA
MENGENAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA
DI DESA REJOSARI KECAMATAN BOJONG


Assalamua’alaikum Wr. Wb.

            Dengan penuh rasa syukur saya menyambut baik atas adanya buku Upaya Pelestarian Cagar Budaya Desa Rejosari, dengan adanya buku ini kiranya dapat meberikan gambaran dan informasi kepada warga masyarakat tentang Pelestarian Cagar Budaya di desa Rejosari sekaligus sebagai salah satu usaha penggalian dan pelestarian nilai budaya sebagai mata rantai yang menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
            Semoga buku ini membantu masyarakat dalam mengembangkan wawasan budayanya dan meningkatkan kecintaannya pada nilai – nilai luhur budaya bangsa. Kepada tim penulis Upaya Pelestarian Cagar Budaya Desa Rejosari, kami apresiasikan atas usaha penelusuran sejarah di desa Rejosari sehingga terlaksananya pengadaan buku ini.
Semoga Allah SWT selalu mencurahkan ridhonya. Amin…

Wassalamua’alaikum Wr. Wb.




H. RASMANI







Silahkan Unduh/Download Link dibawah :
http://www.4shared.com/office/rpgvn1klce/buku_upaya_pelestarian_cagar_b.html